BUDIDAYA SAGU



SAGU
( Metroxylon sp. )

1. SEJARAH SINGKAT
Sagu diduga berasal dari Maluku dan Irian. Hingga saat ini belum ada data yang
pasti yang mengungkapkan kapan awal mula sagu ini dikenal. Di wilayah Indonesia
Bagian Timur, sagu sejak lama dipergunakan sebagai makanan pokok oleh sebagian
penduduknya, terutama di Maluku dan Irian Jaya. Teknologi eksploitasi, budidaya
dan pengolahan sagu yang paling maju saat ini adalah di Malaysia.
Tanaman sagu dikenal dengan nama Kirai di Jawa Barat, bulung, kresula, bulu,
rembulung, atau resula di Jawa Tengah; lapia atau napia di Ambon; tumba di
Gorontalo; Pogalu atau tabaro di Toraja; rambiam atau rabi di kepulauan Aru.



2. JENIS TANAMAN
Klasifikasi tanaman sagu:
Ordo : Spadiciflorae
Famili : Palmae
Di kawasan Indo Pasifik terdapat 5 marga (genus) Palmae yang zat tepungnya telah
dimanfaatkan, yaitu Metroxylon, Arenga, Corypha, Euqeissona, dan Caryota. Genus
yang banyak dikenal adalah Metroxylon dan Arenga, karena kandungan acinya
cukup tinggi.
Sagu dari genus Metroxylon, secara garis besar digolongkan menjadi dua, yaitu:
yang berbunga/berbuah dua kali (Pleonanthic) dan berbunga/berbuah sekali
(Hapaxanthic) yang mempunyai nilai ekonomis penting, karena kandungan
karbohidratnya lebih banyak. Golongan ini terdiri dari 5 varietas penting, yaitu:
a) Metroxylon sagus, Rottbol atau sagu Molat.
b) Metroxylon rumphii, Martius atau sagu Tuni.
c) Metroxylon rumphii, Martius varietas Sylvestre Martius atau sagu Ihur.
d) Metroxylon rumphii, Martius varietas Longispinum Martius atau sagu Makanaru.
e) Metroxylon rumphii, Martius varietas Microcanthum Martius atau sagu Rotan.
Dari kelima varietas tersebut, yang memiliki arti ekonomis penting adalah Ihur, Tuni,
dan Molat.

3. MANFAAT TANAMAN
a) Pelepahnya dipakai sebagai dinding atau pagar rumah.
b) Daunnya untuk atap.
c) Kulit atau batangnya merupakan kayu bakar yang bagus.
d) Aci sagu (bubuk yang dihasilkan dengan cara mengekstraksi pati dari umbi atau
empulur batang) dapat diolah menjadi berbagai makanan.
e) Sebagai makanan ternak.
f) Serat sagu dapat dibuat hardboard atau bricket bangunan bila dicampur semen.
g) Dapat dijadikan perekat (lem) untuk kayu lapis.
h) Apabila rantai glukosa dalam pati dipotong menjadi 3-5 rantai glukosa (modifief
starch) dapat dipakai untuk menguatkan daya adhesive dari proses pewarnaan
kain pada industri tekstil.
i) Dapat diolah menjadi bahan bakar metanol-bensin.

4. SENTRA PENANAMAN
Sentra penanaman sagu di dunia adalah Indonesia dan Papua Nugini, yang
diperkirakan luasan budi daya penanamannya mencapai luas 114.000 ha dan 20.000
ha. Sedangkan luas penanaman sagu sebagai tanaman liar untuk kedua negara
tersebut diperkirakan mencapai 2.000.000 ha. Adapun sentra penanaman tanaman
sagu di Indonesia adalah Irian Jaya, Maluku, Riau, Sulawesi Tengah dan
Kalimantan.

5. SYARAT PERTUMBUHAN
5.1. Iklim
a) Jumlah curah hujan yang optimal bagi pertumbuhan sagu antara 2000-4000
mm/tahun, yang tersebar merata sepanjang tahun.
b) Sagu dapat tumbuh baik di daerah 10 derajat LS – 15 derajat LU dan 90 – 180
derajat BT, yang menerima energi cahaya matahari sepanjang tahun.
c) Sagu dapat ditanam di daerah dengan kelembaban nisbi udara 40 prosen.
Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhannya adalah 60 prosen.
d) Suhu yang optimal bagi pertumbuhan sagu adalah rata-rata 24-30 derajat C.

5.2. Media Tanam
a) Sagu tumbuh di daerah rawa yang berair tawar atau daerah rawa yang bergambut
dan di daerah sepanjang aliran sungai, sekitar sumber air, atau di hutan rawa
yang kadar garamnya tidak terlalu tinggi. Tanah mineral di rawa-rawa air tawar
dengan kandungan tanah liat > 70 prosen dan bahan organik 30 prosen.
b) Pertumbuhan sagu yang paling baik adalah pada tanah liat kuning coklat atau
hitam dengan kadar bahan organis tinggi. Sagu dapat tumbuh pada tanah
vulkanik, latosol, andosol, podsolik merah kuning, alluvial, hidromorfik kelabu dan
tipe-tipe tanah lainnya.
c) Sagu mampu tumbuh pada lahan yang memiliki keasaman tinggi. Pertumbuhan
yang paling baik terjadi pada tanah yang kadar bahan organisnya tinggi dan
bereaksi sedikit asam pH =5,5-6,5.
d) Sagu paling baik bila ditanam pada tanah yang mempunyai pengaruh pasang
surut, terutama bila air pasang tersebut merupakan air segar. Lingkungan yang
paling baik untuk pertumbuhannya adalah daerah yang berlumpur, dimana akar
nafas tidak terendam. Pertumbuhan sagu juga dipengaruhi oleh adanya unsur
hara yang disuplai dari air tawar, terutama potasium, fosfat, kalsium, dan
magnesium.

5.3. Ketinggian Tempat
Sagu dapat tumbuh di daerah dataran rendah sampai dengan ketinggian 700 m dpl.
Ketinggian tempat yang optimal adalah 400 m dpl.

6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
1) Persyaratan Benih/Bibit
Syarat bibit untuk pembibitan cara generatif: biji yang digunakan sudah tua, tidak
cacat fisik, besarnya rata-rata dan bertunas.
Syarat bibit untuk pembibitan cara vegetatif: berasal dari tunas atau anakan yang
umurnya kurang dari 1 tahun, dengan diameter 10-13 cm dan berat 2-3 kg. Tinggi
anakan ±1 meter dan punya pucuk daun 3-4 lembar.
2) Penyiapan Benih/Bibit
a) Cara generatif
Biji yang digunakan berasal dari buah yang sudah tua dan jatuh/rontok dari pohon
induk yang baik, yaitu subur dan produksinya tinggi, tumbuh pada lahan yang wajar
serta produksi klon rata-rata tinggi. Biji/buah yang diambil tersebut adalah buah yang
tidak cacat fisik, besarnya rata-rata, dan bernas.
b) Cara vegetatif
Pembiakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan menggunakan bibit berupa
anakan yang melekat pada pangkal batang induknya yang disebut dangkel atau abut
(jangan yang berasal dari stolon). Adapun cara pengadaan dangkel adalah:
1. Pengambilan dangkel dipilih yang terletak di permukaan atas.
2. Pemotongan dilakukan di sisi kiri dan kanan sedalam 30 cm, tanpa membuang
akar serabutnya.
3. Dangkel yang telah dipotong, dibersihkan dari daun-daun dan ditempatkan
pada tempat yang mendapat cahaya matahari langsung dengan bagian permukaan
belahan tepat pada tempat di mana cahaya matahari jatuh, selama 1 jam.
4. Luka bekas irisan dangkel yang masih tertanam segera dilumuri dengan zat
penutup luka (seperti: TB-1982 atau Acid Free Coalteer) untuk mencegah hama dan
penyakit.
5. Bibit sagu direndam dalam air aerobik selama 3-4 minggu. Setelah itu bibit
ditanam.
6. Penyiapan dangkel sebaiknya dilakukan pada waktu menjelang sore hari,
kemudian pada sore hari dangkel dikumpulkan dan pada waktu malam hari dangkel
diangkut ke lahan, untuk menghindari kerusakan dangkel oleh cahaya matahari.
3) Teknik Penyemaian Benih
a) Cara generatif:
1. Perkecambahan tak langsung:
- Penyiapan media: Wadah/bak dari bata/bambu berukuran tinggi 30-40 cm,
panjang tidak lebih dari 2 meter dan lebar 1,2-1,5 cm. Selanjutnya sepertiga bagian
bawah diisi pasir dan atasnya serbuk gergaji basah.
- Penataan bibit: Bibit ditata dengan jarak 10x10 cm; 10x15 cm; atau 15x15 cm
dengan posisi miring/tegak, bagian lembaga diletakkan di bawah, ¾ bagian bibit
ditekan dalam serbuk gergaji. Kelembaban media dijaga antara 80-90 %. Setelah
umur 1-2 bulan dan sudah berdaun 2-3 lembar, bibit dipindah ke bedeng pembibitan.
2. Pembibitan (Perkecambahan tak langsung di media pembibitan):
- Penyiapan media: Tanah diolah sedalam 45-60 cm, digemburkan dan ditambah
pupuk dasar. Ukuran bedeng tinggi 30 cm; lebar 1,25 m; dan panjang ± 8-10 dengan
jarak antar bedengan 30-50 cm.
- Pengaturan pembibitan tanpa penjarangan: Bibit ditanam dengan jarak 25x25
cm sampai dengan 40x40 cm.
- Pengaturan pembibitan dengan penjarangan: Pada mulanya bibit ditanam
dengan jarak rapat, yaitu 12,5x12,5 cm; 15x15 cm; atau 20x20 cm.
4) Pemeliharaan Penyemaian
Cara generatif dengan penjarangan:
a) Dilakukan setelah satu bulan, yaitu menjadi 25x25 cm; 30x30 cm; atau 40x40
cm.
b) Selama masa penyemaian kelembaban dipertahankan 80-90%.
c) Diberi naungan agar tidak kena cahaya matahari langsung.
d) Penyiraman dilakukan setiap saat.
5) Pemindahan Bibit
a) Cara generatif:
Bibit yang berumur 6-12 bulan dapat dipindahkan atau ditanam. Cara
pengangkatannya ke kebun atau tempat penanaman mudah dan murah.
b) Cara vegetatif:
Setelah diambil dapat langsung ditanam.

6.2. Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
a) Lahan dipilih yang sesuai dengan ketentuan.
b) Menurut kebiasaan petani sagu Riau dan Maluku, penanaman sagu dilakukan
pada awal musim hujan.
2) Pembukaan Lahan
a) Lahan dibersihkan dari semua vegetasi di bawah diameter 30 cm dekat
permukaan tanah dan semua pohon yang tinggal.
b) Vegetasi bawah dan ranting-ranting kecil tersebut dibakar dan abunya untuk
pupuk.
c) Pokok-pokok batang yang besar, yang sulit penggaliannya dapat ditinggalkan
begitu saja di lahan, kecuali pokok-pokok yang berada pada calon baris tanaman
harus dibersihkan.
3) Pembentukan Bedengan
Dilakukan untuk penanaman dengan cara blok (biasanya dilakukan perusahaan
perkebunan sagu). Adapun tata cara pembangunan blok adalah:
a) Ukuran blok 400x400 m, jadi satu blok luasnya 16 ha. Biasanya di tengahtengah
blok dibangun kanal tersier.
b) Kanal yang harus dibangun ada 3 macam, yaitu: kanal utama, kanal sekunder,
dan kanal tersier.
c) Kanal utama adalah kanal yang digali tegak lurus terhadap sungai, dibangun di
setiap dua blok kebun sagu, jaraknya dari kanal utama satu dengan yang lain adalah
800 m. Fungsinya sebagai pengaliran air dari sungai ke dalam blok-blok sagu, dan
sebagai jalur transportasi utama dari kebun ke sungai dan sebaliknya, serta untuk
penyanggah pengaruh air pasang. Kanal utama ini lebarnya 2,5 m.
d) Kanal sekunder adalah kanal yang digali tegak lurus terhadap kanal utama
(melintang pada blok dan kanal utama). Kanal ini berfungsi sebagai pembatas antara
empat blok sagu di sebelahnya; sebagai jalur transportasi sagu dari kebun dan atau
kanal tersier ke kanal utama. Lebar kanal sekunder adalah 2 m.
e) Kanal tersier adalah kanal yang digali pada pertengahan blok atau di antara
dua blok atau melintangi di antara blok-blok yang saling berseberangan. Fungsinya :
drainase per blok; batas antar blok yang saling berseberangan dan sebagai jalur
transportasi dari kebun sagu bagian dalam, ke sungai atau kanal utama, atau ke
kanal sekunder atau juga ke kanal tersier melintang dan sebaliknya. Lebar kanal
tersier adalah 1,5 m.
f) Saluran drainase lebarnya 0,75-1,00 m.
4) Lain-lain
a) Menentukan sistem dan alat transportasi, karena lahan penanaman sagu
didominasi oleh lahan yang berupa rawa dan lahan pantai yang sering dipengaruhi
pasang surut.
b) Lahan sebagian merupakan daerah berair, maka infrastruktur harus terdiri atas
sistem kanal sebagai pengganti jalan darat.

6.3. Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanam
a) Penanaman dengan sistem blok: Jarak tanam/jarak lubang antar bervariasi
antara 8-10 meter, sehingga satu hektar hanya menampung ± 150 buah.
b) Jarak tanam yang dianggap ideal adalah:
1. Sagu Tuni 8x8 m atau 9x9 m, hubungan segitiga sama sisi, sehingga 1 hektar
akan memuat 143 tanaman.
2. Sagu Ihur 9x9 m, hubungan segitiga sama sisi, sehingga 1 hektar akan memuat
143 tanaman.
3. Sagu Molat 7x7 m, hubungan segi empat, sehingga 1 hektar akan memuat
2043 tanaman.
4. Jika ketiga varietas ditanam secara bersama-sama, maka ditanam secara
terpisah menurut blok.
2) Pembuatan Lubang Tanam
a) Lubang tanam digali sebulan/selambat-lambatnya 1 minggu sebelum
penanaman dengan ukuran lubang 30x30x30 cm.
b) Hasil galian tanah bagian atas dipisahkan dari tanah lapisan bawah dan
dibiarkan beberapa hari.
c) Pada lubang tanaman itu ditempatkan pancang-pancang bambu, tiap lubang 2
pacang.
3) Cara Penanaman
a) Membenamkan dangkel ke dalam lubang tanaman.
b) Bagian pangkal dangkel ditutup dengan tanah remah bercampur gambut.
Tanah penutup jangan ditekan tapi dangkel jangan sampai bergerak.
c) Tanah lapisan atas dimasukkan sampai separuh lubang apabila mungkin
dicampur puing-puing.
d) Akar-akar dibenamkan pada tanah penutup lubang dan pangkalnya agak
ditekan sedikit ke dalam tanah.

6.4. Pemeliharaan Tanaman
1) Penjarangan dan Penyulaman
a) Dapat dilakukan setiap waktu, agar tidak terjadi kekosongan dalam areal.
Kesulitan penyulaman sering terjadi bila lahan kekurangan air sebab akan gagal.
b) Penyulaman menggunakan bibit cadangan yang sudah ditanam di lahan
bersamaan dengan waktu tanam, pada salah satu ujung barisan tanaman atau
dangkel.
c) Penyulaman dapat dilakukan sampai umur 3 tahun. Lebih dari 3 tahun hasilnya
kurang baik, sebab sulaman sudah akan dilindungi oleh canopy sagu yang sudah
mulai meluas, sehingga kesulitan untuk mendapatkan cahaya matahari.
d) Penjarangan idealnya dilakukan sekali dalam setahun.
e) Jumlah pohon yang disisakan tergantung dari jenis dan spesies sagu dan
tingkat pertumbuhan.
f) Jumlah tegakan(jumlah pohon dalam satu rumpun) yang ideal adalah sebagai
berikut:
1. Ihur: semai=3; sapihan=2-3; tiang=1-2; pohon=1; jumlah=7-9
2. Tuni: semai=3-4; sapihan=2-3; tiang=1-2; pohon=1-2; jumlah=7-11
3. Molat: semai=1-2; sapihan=1; tiang=1; pohon=1; jumlah=4-5
Catatan:
Semai: anakan sagu kecil dengan batang bebas daun 0-0,5 m
Sapihan: anakan sagu kecil dengan batang bebas daun 0,5-1,5 m.
Tiang: anakan sagu kecil dengan batang bebas daun 1,5-5 m.
Pohon: anakan sagu kecil dengan batang bebas daun >5 m.
2) Penyiangan
a) Penyiangan dilakukan terhadap gulma dan dilakukan pada sagu muda (3-5
tahun), sebab rawan terhadap serangan hama. Gulma juga akan memperbesar
peluang kebun dilanda kebakaran.
b) Penyiangan dapat menggunakan tangan, sabit, parang, cangkul dan
sebagainya.
c) Hasilnya dipendam/dikomposkan. Bila gulma mengandung hama/vektor dan
kayu, dibakar dan abunya dijadikan pupuk.
3) Pemupukan
a) Unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman sagu, yaitu Kalsium,
Kalium dan Magnesium.
b) Macam dan dosis pupuk:
1. Umur 0: Urea=0; PA=300; TSP=0; KCl=0; KIES=0
2. Umur 1: Urea=100; PA=0; TSP=100; KCl=50; KIES=0
3. Umur 2: Urea=150; PA=0; TSP=150; KCl=100; KIES=0
4. Umur 3: Urea=200; PA=0; TSP=200; KCl=150; KIES=30
5. Umur 4: Urea=250; PA=250; TSP=0; KCl=250; KIES=40
6. Umur 5: Urea=300; PA=0; TSP=300; KCl=250; KIES=50
7. Umur 6: Urea=400; PA=400; TSP=0; KCl=400; KIES=80
8. Umur 7: Urea=500; PA=0; TSP=500; KCl=500; KIES=100
9. Umur 8: Urea=500; PA=500; TSP=0; KCl=600; KIES=120
10. Umur ≥ 9: Urea=500; PA=0; TSP=500; KCl=700; KIES=140
Keterangan: PA = Phosphat Alam ; KIES = Kieserite (mg)
c) Cara pemupukan:
1. Dibenamkan dalam tanah, agar tidak terbawa air sebelum terabsorbsi oleh akar
tanaman, terutama lahan yang berada di daerah rawa/dataran rendah dan pasang
surut yang sering terjadi luapan air.
2. Pemupukan dapat dilaksanakan secara lingkaran di sekeliling rumpun atau
secara lokal di dau sisi rumpun pada jarak sejauh pertengahan antara ujung tajuk
dengan pohon/rumpun sagu.
d) Waktu pemupukan:
1. Untuk sagu muda sampai 1 tahun menjelang panen, pemupukan dilakukan 1-2
kali setahun.
2. Pemupukan sekali setahun, dilakukan pada awal musim hujan.
3. Pemupukan dua kali setahun, dilakukan pada awal dan akhir musim hujan,
masing-masing dengan 1/2 dosis.

7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
a) Kumbang (Oryctes rhinoceros sp.)
Ciri: Tubuhnya berbulu pendek dan sangat rapat pada bagian ekornya.
Kepompong berwarna kuning dengan ukuran yang lebih kecil daripada lundi,
terbungkus dalam bahan yang terbuat dari tanah. Kumbang dewasa berwarna
merah sawo, berukuran 3-5 cm. Imago (kumbang dewasa) meninggalkan rumah
kepompongnya pada malam hari dan terbang ke pohon sagu. Gejala: terdapat
lubang pada pucuk daun bekas gerekan kumbang, setelah berkembang tampak
terpotong seperti digunting dalam bentuk segitiga. Bila titik tumbuhnya rusak, sagu
tidak mampu membentuk daun lagi dan akhirnya mati. Pengendalian mekanis:
pohon-pohon sagu yang mendapat serangan ditebang dan dibakar, sedangkan
pucuknya dibelah-belah, kemudian diberi Aldrin 40% WP yang dipakai sebagai
perangkap. Penebangan pohon menggunakan gergaji mekanis atau kapak. Bila
menyerang sagu muda, maka Oryctes dapat dimatikan dengan kawat runcing
yang ditusukkan ke Oryctes pada lubang gerekan sampai tembus badannya dan
ditarik keluar. Pengendalian: pada pucuk pohon diberi Heptachlor 10 gram,
Diazinon 10 gram, dan BHC. Sedang cara biologis adalah dengan Oryctes dapat
diserang oleh cendawan (Meterrhizium anisopliae) yang sifatnya sebagai parasit
pada stadium larva, tetapi daya bunuhnya terlalu rendah.
b) Kumbang sagu (Rhynchophorus sp)
Terdapat beberapa jenis, yaitu: (1) Rhynchophorus ferrugineus, Oliv (kumbang
sagu); (2) Rhynchophorus ferrugineus, Oliv varietas Schach, F dan (3)
Rhynchophorus ferrugineus, Oliv varietas Papuanus, Kirsch. Perbedaannya
terletak pada bentuk, ukuran dan rupa kumbang dewasa. Ciri serangan sekunder
setelah kumbang Oryctes biasanya meletakkan telur di luka bekas Oryctes. Bila
serangan terjadi pada titik tumbuh dapat menyebabkan kematian pohon.
Pengendalian: sama dengan kumbang Oryctes.
c) Ulat daun Artona (Artona catoxantha, Hamps. atau Brachartona catoxantha)
Ciri: (1) kupu-kupu Artona catoxantha, Hamps. berukuran panjang 10-15 mm,
dengan jarak sayap 13-16 mm, sayapnya berwarna hitam merah kecoklatan. Pada
punggung depan, bagian perut dan pinggir sayap depannya bersisik kuning. Kupukupu
Artona bergerak aktif siang hari dan malam hari; (2) Ulat Artona berwarna
putih kuning berukuran sampai 11 mm. Pada pungungnya terdapat garis lebar
berwarna kemerah-merahan. Bagian depan badannya lebih besar dibanding
bagian balakang. Stadium ulat ini berlangsung selama 17-22 hari. Pada stadium
inilah kerusakan tanaman sagu terjadi, yaitu dengan menggerek anak daun sagu.
Gejala: (1) tingkat serangan titik adalah ulat/larva yang baru menetas masuk
dalam jaringan daun dan memakan daging anak daun, bekas serangan ini dari
bawah tampak sebagai bintik-bintik kecil yang tidak tembus; (2) tingkat serangan
garis adalah ulat Artona yang lebih besar menyusup lebih meluas, sehingga bekas
serangga tampak seperti garis-garis; (3) tingkat serangan pinggir adalah yang
menggerek daun sagu adalah ulat Artona yang lebih besar/tua, berpindah tempat
ke bagian pinggir dan memakan bagian anak daun pinggir; (4) tingkat serangan
akhir adalah pada tingkatan ini daun-daun menjadi sobek-sobek. Daun yang
paling disenangi adalah daun tua. Daun bekas serangan seperti terbakar.
Pengendalian mekanis: daun-daun yang diserang Artona dipangkasi, serangan
Artona yang berat akan mengakibatkan pelepah daun tinggal memliki 2/3 daun
saja. Waktu pemangkasan daun-daun yang diserang Artona adalah bilamana
dalam 200-300 daun sagu yang diambil secara acak, mengandung lima atau lebih
stadium hidup Artona (telur, larva, kepompong, atau kupu-kupu). Pemangkasan
harus sudah dilakukan dua minggu sesudah Artona memiliki panjang 8 mm,
sehingga banyak Artona yang gagal menjadi kupu-kupu. Pengendalian biologis:
menggunakan parasit, antara lain: (1) taburkan (Apanteles artonae) yang biasanya
menyerang ulat Artona pada instar kedua; (2) Lalat Ptychomyia remota atau
Caudurcia leefmansii yang menyerang ulat Artona pada instar berikutnya.
Pengendalian kimiawi: menggunakan bahan kimia Arcotine D-25 - EC, dengan
dosis 4 kg/ha.
d) Babi hutan
Binatang ini merusak sagu tingkat semai dan sapihan (umur 1-3 tahun), memakan
umbut (pucuk batang yang masih muda). Pengendalian: memburu dan
membunuhnya agar populasi terkendali, sehingga kerusakan yang ditimbulkan
berkurang. Selain itu dengan umpan yang diberi racun fosfor sebanyak 2-5 gram.
e) Kera (Macaca irus)
Kera yang hanya terdapat di daerah pegunungan dengan 1500 m dpl, merusak
bagian sagu muda, yaitu umbutnya. Binatang ini mempunyai kebiasaan selalu
merusak lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Pengendalian: sama dengan
pengendalian babi hutan.

7.2. Penyakit
a) Bercak kering
Penyebab: cendawan Cercospora. Gejala: daun berbercak-bercak coklat dan
dapat mengakibatkan seluruh daun berbercak-bercak kering atau berlubanglubang.
Bila serangan cukup hebat, kanopi tanaman sagu nampak meranggas.
Pengendalian: belum ada secara khusus, hanya pemakaian fungisida dan
sanitasi lingkungan.

7.3. Gulma
Pengendalian gulma dapat diperjarang atau dihentikan sama sekali bila sagu sudah
berumur lima tahun ke atas. Pengendalian secara mekanis adalah gulma dibersihkan
dan dimatikan dengan sabit, parang, cangkul, dan sebagainya. Gulma hasil
penyiangan dijadikan pupuk kompos. Sedangkan secara kimiawi adalah dengan cara
penyemprotan herbisida yang dilakukan secara teratur, misalnya 2-4 minggu sekali,
disesuaikan dengan kondisi gulmanya. Herbisida yang dianjurkan adalah herbisida
kontak, seperti PARACOL.
Pengendalian secara kultur teknis dilakukan jika lahan tidak diganggu banjir dan
kondisi tanah tidak terlalu basah. Caranya dengan menanam tanaman penutup
tanah leguminosa (Leguminosa Ground Cover=LCG). Dengan penanaman LCG,
maka akan diperoleh manfaat ganda, yaitu pertumbuhan gulma dapat ditekan
semaksimal mungkin dan tanah mendapat perbaikan kondisi kimiawi, biologis, dan
fisis. LCG yang dapat digunakan adalah: Calopogonium sp.; Centrocema sp.; Vigna
husei.

8. PANEN
8.1. Ciri dan Umur Panen
Panen dapat dilakukan mulai umur 6-7 tahun, atau bila ujung batang mulai
membengkak disusul keluarnya selubung bunga dan pelepah daun berwarna putih
terutama pada bagian luarnya. Tinggi pohon 10-15 m, diameter 60-70 cm, tebal kulit
luar 10 cm, dan tebal batang yang mengandung sagu 50-60 cm. Ciri pohon sagu
siap panen pada umumnya dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada daun, duri,
pucuk dan batang.
Cara penentuan pohon sagu yang siap panen di Maluku:
a) Tingkat Wela/putus duri, yaitu suatu fase di mana sebagian duri pada pelepah
daun telah lenyap. Kematangannya belum sempurna dan kandungan acinya
masih rendah, tetapi dalam keadaaan terpaksa pohon ini dapat dipanen.
b) Tingkat Maputih, ditandai dengan menguningnya pelepah daun, duri yang terdapat
pada pelepah daun hampir seluruhnya lenyap, kecuali pada bagian pangkal
pelepah masih tertinggal sedikit. Daun muda yang terbentuk ukurannya semakin
pendek dan kecil. Pada tingkat ini sagu jenis Metroxylon rumphii Martius sudah
siap dipanen, karena kandungan acinya sangat tinggi.
c) Tingkat Maputih masa/masa jantung, yaitu fase di mana semua pelepah daun
telah menguning dan kuncup bunga mulai muncul. Kandungan acinya telah padat
mulai dari pangkal batang sampai ujung batang merupakan fase yang tepat untuk
panen sagu Ihur (Metroxylon sylvester Martius).
d) Tingkat Siri buah, merupakan tingkat kematangan terakhir, di mana kuncup bunga
sagu telah mekar dan bercabang menyerupai tanduk rusa dan buahnya mulai
terbentuk. Fase ini merupakan saat yang paling tepat untuk memanen sagu jenis
Metroxylon longispium Martius.
Ciri-ciri pohon yang sagu yang siap dipanen menurut masyarakat Irian Jaya adalah:
a) Pelepah daun menjadi lebih pendek.
b) Kuncup bunga mulai tampak dan pucuk pohon mendatar bila dibandingkan
dengan pohon sagu yang lebih muda.
c) Batang sagu dilubangi kira-kira 1 m di atas tanah, kemudian diambil empulurnya
dan dikunyah serta diperas. Apabila air perasannya keruh berarti kandungan
acinya sudah cukup dan pohon siap dipanen.

8.2. Cara Panen
a) Dilakukan pembersihan untuk membuat jalan masuk ke rumpun dan pembersihan
batang yang akan dipotong untuk memudahkan penebangan dan pengangkutan
hasil tebangan.
b) Sagu dipotong sedekat mungkin dengan akarnya. Pemotongan menggunakan
kampak/mesin pemotong (gergaji mesin).
c) Batang dibersihkan dari pelepah dan sebagian ujung batangnya karena acinya
rendah, sehingga tinggal gelondongan batang sagu sepanjang 6-15 meter.
Gelondongan dipotong-potong menjadi 1-2 meter untuk memudahkan
pengangkutan. Berat 1 gelondongan adalah ± 120 kg dengan diameter 45 cm dan
tebal kulit 3,1 cm.

8.3. Periode Panen
Pemanenan kedua dilakukan dengan jangka waktu ± 2 tahun.

8.4. Prakiraan Produksi
Perkiraan hasil yang paling mendekati kenyataan pada kondisi liar dengan produksi
40-60 batang/ha/tahun dengan jumlah empulur 1 ton/batang, dengan kandungan aci
sagu 18,5 prosen, dapat diperkirakan hasil per hektar per tahun adalah 7-11 ton aci
sagu kering. Secara teoritis, dari satu batang pohon sagu dapat dihasilkan 100-600
kg aci sagu kering. Rendemen total untuk pengolahan yang ideal adalah 15 prosen.

9. PASCAPANEN
9.1. Pengumpulan
a) Gelondongan yang telah dipotong dapat langsung dibawa ke parit/sumber air
terdekat, kemudian langsung ditokok/diekstraksi.
b) Atau gelondongan dialirkan lewat kanal lalu dihalau/dihanyutkan menuju tempat
pengolahan.
c) Sagu-sagu yang dihanyutkan ditangkap dengan jala-jala yang diletakkan pada
sebuah ban pengangkut barang.
d) Ban tersebut akan membawa gelondongan ke pabrik.
e) Kalau ada jalan darat yang memadai, pengangkutan menggunakan truk atau
gerobak.

9.2. Pengambilan Aci Sagu
a) Cara Maluku:
1. Potongan pohon sagu dibelah dua.
2. Belahan pohon sagu ditokok dengan suatu alat yang disebut "nani". Caranya
empulur ditetak-tetak sedikit demi sedikit dari salah satu ujung sampai ke
pangkalnya. Empulur dijaga jangan sampai kering.
3. Hasil tokokan empulur yang disebut "ela", dikumpulkan, kemudian disaring.
4. Di tempat penyaringan, ela disiram dengan air bersih, maka aci akan keluar
bersamaan dengan air siraman, selanjutnya disaring dalam "goti".
5. Air siraman ela yang diperoleh, diendapkan. Hasil endapan dipisahkan dari air
yang sudah mulai jernih, sehingga diperoleh aci sagu basah.
6. Aci sagu dimasukkan dalam "tumang" atau "tappiri" (suatu wadah dari batang
sagu), untuk disimpan atau diproses lebih lanjut.
b) Cara Fabrikasi:
Semua pabrik pengambil empulur mengguankan pemarut silinder yang
disambungkan pada motor, sedangkan di Serawak digunakan pemarut Cakera
(dari Jerman) yang besar. Setelah diperoleh “ela”, lalu diproses menjadi zat
tepung seperti pengambilan pati yang dilakukan pabrik tapioka biasa, yaitu
dengan menggunakan sistem pemisah zat tepung dari ampas secara sentrifugal.
Kapasitas produksi pabrik tersebut berkisar antara 1-10 pokok/hari.

9.3. Pemutihan Aci Sagu
a) Dibuat larutan kaporit 3 prosen, caranya 300 gram kaorit dilarutkan dalam 10 liter
air bersih.
b) Aci sagu dimasukkan dalam larutan kaporit dengan perbandingan 1 bagian tepung
2 bagian larutan kaporit.
c) Larutan diaduk sampai homogen, kira-kira selama 1 menit, kemudian diendapkan
dan didiamkan selama 1/2 jam.
d) Cairan bening yang terdapat pada bagian atas tepung dikeluarkan dan ditampung
pada ember lain, cairan ini masih dapat digunakan untuk mencuci 2-3 kali lagi.
e) Netralkan aci sagu tersebut dengan memasukkan air bersih dalam aci lalu diaduk
sampai rata kira-kira selama 1 menit.
f) Sebelum larutan aci dalam ember tenang, larutan itu segera disaring lalu
diendapkan. Cairan bagian atas dibuang kemudian ditambah air lagi, diaduk,
diendapkan, cairan bening dibuang. Pekerjaan ini diulang 3-4 kali sampai bau
kaporit hilang.
g) Aci sagu yang sudah tampak putih dan tidak berbau kaporit segera dikeringkan
pada para-para yang dialasi plastik, sampai kering.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
10.1.Analisis Usaha Budidaya
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Pada pertengahan tahun 1989 didirikan industri pengolahan sagu oleh PT. Sagindo
Sari Lestari di Arandai, Bintuni, Manokwari, Irian Jaya dengan kapasitas produksi
berkisar antara 36-150 ribu ton/tahun
Propek pasar sagu sebenarnya cukup baik. Permintaan terus meningkat baik untuk
kebutuhan ekspor maupun domestik. Secara nasional permintaan diperkirakan
mencapai ±300.000 ton, sedangkan produksi hanya 48.822 ton pada tahun 1988 dan
70.000 ton pada tahun 1989. Permintaan pasar baik luar maupun dalam negeri terus
meningkat. Pasar ekspor yang potensial adalah Jepang, Kanada, Amerika Serikat,
Inggris, Thailand dan Singapura. Permintaan dalam negeri meningkat, karena
perkembangan industri makanan, farmasi, maupun industri lainnya.

11. STANDAR PRODUKSI
11.1.Ruang Lingkup
Standar produksi meliputi: klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji,
syarat penandaan dan cara pengemasan.

11.2.Diskripsi
Standar mutu tepung sagu di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia
SNI 01-3729-1995.

11.3.Klasifikasi dan Standar Mutu
Klasifikasi dan standar mutu tepung sagu adalah sebagai berikut:
a) Keadaan
1. Bau: normal
2. Warna: normal
3. Rasa: normal
b) Benda asing: tidak boleh ada
c) Serangga (bentuk stadia dan potongannya): tidak boleh ada
d) Jenis pati selain pati sagu : tidak boleh ada
e) Air (%) : maksimum 13
f) Abu (%): maksimum 0,5
g) Serat kasar (%): maksimum 0,1
h) Derajat asam (Ml NaOH 1N/100 gram): maksimum 4
i) SO2 (Mg/kg): maksimum 30
j) Bahan tambahan makanan (bahan pemutih): sesuai SNI 01-0222-1995
k) Kehalusan,lolos ayakan 100 mesh (%):minimum 95
l) Cemaran logam
1. Timbal (Pb) Mg/kg: maksimum 1,0
2. Tembaga (Cu)Mg/kg: maksimum 10,0
3. Seng (Zn)Mg/kg: maksimum 40,0
4. Raksa (Hg)Mg/kg: maksimum 0,05
m)Cemaran arsen (As)Mg/kg: maksimum 0,5
n) Cemaran mikroba
1. Angka lempengan total koloni/gram: maksimum 106
2. E. Coli APM/gram: maksimum 10
3. Kapang koloni: maksimum 104
Untuk mendapatkan mutu sagu yang sesuai dengan standar maka harus dilakukan
bebrapa pengujian mutu, yaitu:
a) Cara uji serangga: timbang lebih kurang 25 gram contoh kemudian tekan sampai
ketebalan 2-5 mm dengan menggunakan 2 lempeng kaca. Setelah itu diamkan
selama 24 jam dan amati permukaan kaca dengan menggunakan kaca pembesar,
apakah ada jejak-jejak bekas ulat. Larva, kepompong atau serangga dan
potongan-potongannya dengan mengayak contoh, sedang telurnya dilihat
mikroskop.
b) Cara uji jenis pati selain pati sagu (granula pati sagu): taburkan sedikit contoh
pada kaca obyek tambahkan sedikit air, kemudian ratakan, tutup dengan kaca
penutup dan amati dengan kaca mikroskop pada pembesaran tertentu.
Bandingkan bentuk granula pati contoh dengan standar bentuk granula pati sagu.
Adanya pati selain pati sagu menandakan tepung sagu tersebut dicampur dengan
tepung lainnya.
c) Sedangkan cara uji dengan benda asing, air, SO2, abu, serat kasar dan
kehalusan sesuai dengan cara uji makanan dan minuman SNI 01-289-1992; cara
uji derajat asam SNI 01-3555-1992; cara uji minyak dan lemak; cara uji cemaran
logam dirinci, cemaran logam, cemaran logam raksa (Hg) dan cemaran arsen
sesuai dengan SNI 19-2896-1992; cara uji cemaran logam dan cemaran mikroba
sesuai dengan SNI 19-2897-1992.

11.4.Pengambilan Contoh
Cara pengambilan contoh sesuai dengan SNI 19-04528-1989, petunjuk
pengambilan contoh.

11.5.Pengemasan
Produk dikemas dalam wadah yang tidak dipengaruhi atau mempengaruhi isi,
selama penyimpanan dan pengangkutan. Sedangkan penandaan sesuai dengan
Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.

12. DAFTAR PUSTAKA
a) Anonimous. 1994. Sagu, Komoditi Pertanian yang Dilupakan. Dalam Kumpulan
Kliping Sagu. Trubus.
b) Anwar, I. 1994. Sagu Tulehu. Dalam Kumpulan Kliping Sagu. Trubus.
c) Harsanto, 1990. Budidaya dan pengolahan sagu. Kanisius. Yogyakarta.
d) Haryanto, B. dan Panglali, P. 1992. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Kanisius.
Yogyakarta.
e) Hiberna, N. 1994. Sagu sebagai Sumber Karbohidrat dan Pembudidayaannya.
Dalam Kumpulan Kliping Sagu. Trubus.
f) Karyanto dan Soemodipoero, B. 1994. Formula Makanan Bayi Sagu dan Tepung
Tempe ? Dalam Kumpulan Kliping Sagu. Trubus.
g) Rukmana, R. 1994. Cerah, Prospek Budidaya Sagu. Dalam Kumpulan Kliping
Sagu. Trubus.
h) Sundoro, S. 1994. Sagu Kalsel jadi Lem Kayu Lapis. Dalam Kumpulan Kliping
Sagu. Trubus.
i) Suparto, T.I. 1994. Hutan Sagu dan Nipah masih merupakan Potensi Tidur. Dalam
Kumpulan Kliping Sagu. Trubus.
j) Surenggan, S. 1994. Sagu sebagai Sumber Pakan Ternak. Dalam
k) Kumpulan Kliping Sagu. Trubus.Suriawiria, U. 1994. Sagu, Sumber Pangan yang
Digalakkan. Dalam Kumpulan Kliping Sagu. Trubus.
l) Susanta, J. 1994. Manfaatkan Sagu sebagai Media Tumbuh Jamur. Dalam
Kumpulan Kliping Sagu. Trubus.
m)Wisastro, S.J. 1994. Sagu Bengkalis. Dalam Kumpulan Kliping Sagu. Trubus.

0 Response to "BUDIDAYA SAGU"

Posting Komentar

Test Footer 2

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Video Category